Penyederhanaan pada bentuk dan wujud "Tuhan" yang baku dan kaku. mmbuat kita alpa bahwa Tuhan yang menciptakan kita dan dan menghadirkan kita ke dunia ini juga. adalah Tuhan yang sama. Dia Maha Wujud yang juga menciptakan Alam Semesta Raya. Tuhan Jelas bukan sekedar Tuhan untuk manusia. tp Dia juga pasti Tuhan untuk Binatang, tumbuhan, bumi, bintang, galaksi, segala sesuatu yang terlihat dan Tuhan juga mewakili segala sesuatu yang tdk terlihat. Terlalu suci bukan? untuk bisa di katakan Tuhan menyerupai "sesuatu" yang kelihatan??? lalu bagaimana yng tidak kelihatan??? lalu dimana. Apakah bisa kita katakan Tuhan maha adil. kalau dia ternyata hanya menyerupai kambing, pasti kerbau menggangap tidak adil. bagaimana bisa adil kalau Tuhan ternyata seorang Negro. yakinlah bahwa Tuhan yang "tidak masuk akal" pastilah bukan Tuhan. karena Tuhan yang menciptakan akal untuk mencerna mana Tuhan yang membuat alam semesta raya dan mana Tuhan yang tiba-tiba menjadi Tuhan akan dapat di cerna oleh akal (buatan Tuhan asli) dalam sejarah dan peradaban manusia kita sudah mengenal bentuk2 "sembahan" kan mulai dari Sapi, patung bahkan manusia… bukan begitu?? lalu dapatkah kita bedakan Tuhan dengan tuhan??? lalu manusia yang mengerti hakikat Tuhan pasti bisa menangkap uluran tangan Tuhan yang tidak sama sekali berarti secara harfiah ada tangan besar raksasa yang di kiranya itulah tangan "Tuhan". sampe disini … siapapun anda saya sangat ingin bercengkerama sebagai sesama penggemar Tuhan terutama dalam penarian terhadap Tuhan ASLI made in Tuhan itu sendiri. SANG MAHA DIALEKTIKA. semoga kita bisa dikusi oke!!!
Archive for February, 2007
Kematian Tuhan
“……Pada mulanya, manusia hanya menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa Langit dan Bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadaNya. Dia terlalu luhur bagi ibadah manusia yang tidak memadai. Perlahan ia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh. Sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang…” Begitulah kira-kira apa yang dikemukakan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin of The Idea of God. Ia menyatakan bahwa telah ada suatu agama monoteis primitif. Sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka hanya mengakui satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Dan sejarah memang selalu terulang. Seperti sebuah episode yang selalu berulang dan berulang. Hal tersebut merupakan kontraksi sejarah manusia dengan sejarah itu sendiri. Begitu juga dengan kehidupan aktual kita, kita banyak sekali jumpai manusia hidup dengan berbagai ragam keyakinan. Juga dengan berbagai macam Tuhan ataupun Dewa. Pada awalnya tidak ada kultus khusus untuk-Nya dan Dia tidak pernah tampil dalam penggambaran apapun. Karena Dia memang teramat luhur bagi akal dan budi manusia yang teramat terbatas. Dalam sebuah diskusi dengan banyak kalangan, sebuah pro-testimoni kadang terlempar. Dengan nada yang sama yang juga dikemukakan oleh Schmidt, Kita diciptakan oleh Tuhan atau Tuhan diciptakan oleh kita. ? Satu-satunya metode deduktif tentang ini adalah Sosio-sejarah. Meski demikian sejarah memang lebih membiarkan kecenderungan, bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan dan bukan sebaliknya. Hal ini sekaligus peluang untuk dapat berkorespondensi dengan jalannya alur kebenaran yang di sajikan justru oleh sejarah sendiri. Karena sejarah bersifat skeptif, seperti halnya juga kebenaran eksak. Ia akan terus berpeluang untuk teruji. Orang yang tidak mempelajari sejarah akan di kibuli dongeng. Sebuah kata-kata bijak ini dipahat disebuah gereja di Philipina. Tuhan yang satu, tak terjangkau oleh pikiran manusia, namun dia dipersepsi secara berbeda-beda oleh berbagai kelompok manusia sepanjang sejarah. Bahkan setiap generasi hampir secara bersamaan menciptakan citra Tuhannya yang sendiri. Bagaimana mungkin makna ini jadi sedemikian paradoks. Disatu sisi Tuhan adalah satu, namun disisi lain setiap zaman nyatanya dalam sejarah menciptakan Tuhannya sendiri. Apakah mungkin Tuhan adalah suatu oknum. Tentu mengerdilkan arti esensinya. Tapi ini nyata, dan jelas-jelas faktuil. Dalam sejarah kita jumpai hal ini sebagai kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Lalu apakah mungkin, Tuhan yang ada saat ini kelak masih akan mengalami perubahan. Jawabannya …..justru sangat pasti. Tuhan mungkin tidak berubah, namun manusialah yang berubah. Persepsi manusialah peluang akan perubahan itu. Kita mungkin ingin mendekatkan Tuhan untuk menjadi sekedar teman tidur, yang menentramkan pada saat yang bersamaan kita juga memohon dia memberikan keajaiban-keajaiban, yang mampu menebalkan keimanan. Sementara itu kita lupa bahwa Tuhan yang sama juga, Tuhan yang menciptakan alam semesta. Yang memberi hukum-hukum atas kekekalan energi. Dan berjalannya semua pusat-pusat alam semesta. Lalu kita mulai memberi tekanan bawa Tuhan Subyektif lah yang benar dengan memberi gagasan akan kebenaran obyektifnya seputar keajaiban, dan Pro-survivorisme terhadap kehidupan kita. (soteriologi) Kita mungkin membayangkan betapa benarnya Tuhan yang kita sembah, lantaran ia memang memberikan keajaiban yang kita mohonkan. Sementara itu Tuhan yang sama juga memberikan kehidupan, dan jawaban-jawaban pada mereka yang justru tidak mempercayainya atau tidak sama dengan gambaran Tuhan yang “benar” yang kita sembah itu. Dan atau sama sekali tidak beragama Robinson Crusoe, merupakan sebuah epic, yang secara tidak sadar mewarnai teologi saat abad 15-18. Cerita ketika dia terdampar di perairan Polynesia. Dan mendapati teman seorang Negro. Yang dalam anggapannya Tuhan si Negro adalaha Setan. Tentu yang dia maksud “Setan” karena temannya berkulit hitam. Berwajah sangar. Dan bertuhan Buaya. Sedangkan Robinson Crusoe, menggambarkan Tuhannya persis seperti dirinya. Berkulit putih dan tentu saja rupawan. Ketika Temannya mengatakan yang disembahnya adalah yang Maha Kuat, maha tidak tertandingi, maha ada, maha tersembunyi dan menunjuk simbolisasinya adalah Buaya. Maka praktis lengkap sudah gambaran Setan itu. Hal ini sebuah gambaran subyektif terhadap kebenaran. Hanya saja kita mungkin luput bahwa, penggambaran citra Tuhan, mungkin berbeda dalam setiap keyakinan. Tetapi bahwa Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tak pernah diragukan lagi, dan hampir semua kepercayaan secara bersamaan menyatakannya. Kita dan semua hidup dalam sebuah botol yang sama. Dalam alam semesta yang sama. Apakah mungkin kita sang pembuat botol itu sendiri oknum yang berbeda. Jika si Lisa, Dian, Nita, Maureen. Lia, Dani Berbeda agama. Sudah tentu Tuhan. Yang disembahnya berbeda???. Sebagaimana Robinson Crusoe mempersepsikan bahwa yang disembah kawannya yang berkulit hitam adalah setan. Karena jauh dari gambaran fisik Tuhan orang Barat. Jika demikian pemikiran Crusoe bukan hanya mengandung kebencian rasial, melainkan Gambaran Tuhan yang maha Tidak adil. Karena hanya berkulit tertentu sehingga hanya mewakili satu gambaran. Sedangkan Tuhan Pasti Maha Wujud. Segala gambaran. Itulah dia. Pada beberapa dekade belakangan, bahkan terjadi diskursus yang sangat panas. Bahwa Karena Tuhan telah terlanjur secara khusus dikenal sebagai berjenis kelamin “laki-laki” meski dalam bahasa inggris kaum monoteis lazim menunjuk kata ganti-Nya dengan sebutan “he”. Hal ini tentu memberikan sebuah ketidakadilan gender. Dan secara terlanjur gramatikal bahasa Inggris memang membedakan gender sebagai kata ganti orang. Kaum feminis dengan sangat sadar menaruh keberatan terhadap hal ini, persoalan ini membawa Tuhan pada titik yang sangat sulit untuk dicerna. Sehingga jelas memberikan problem yang sangat serius terutama Penggunaan kata maskulin ini sebagai kata ganti Tuhan menjadi persoalan dalam bahasa bergender. Dan banyak pula kaum feminis yang secara agresif merubah kata ganti he menjadi she. Akan tetapi, dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Prancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis. Yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak ada dalam bahasa Inggris. Misalnya kata Arab Allah (nama tertinggi dari Tuhan) adalah maskulin secara gramatikal, tetapi kata esensi Tuhan. Yang Maha Pengasih dan Penyayang—Ar Rahman Ar Rohim. Adalah feminim. Dalam bible sendiri kata Allah dipakai. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan bahasa ketika masa dan tempat Yesus hidup. Yakni bahasa Aramin.(Arab Kuno) sehingga, tentu dalam masa awalnya Penggambaran tentang Tuhan tidak mengalami polarisasi. Namun ketika pengalihan bahasa. Dengan tanpa memperhatikan bahasa aslinya. Mungkin menjadi jalan menuju polarisasi gramatikal yang pada gilirannya mendorong distorsi makna. Bible sendiri ditulis pertama kali dalam bahasa Yunani. 350 tahun setelah Yesus. Dan sayangnya Paulus tidak memberikan salinan yang berbahasa Aramin. Tentu terjadi suatu rentang waktu yang panjang dan mengalami fase-fase polarisasi gramatikal. Untuk kurun waktu yang lama dan jauh dari apa yang sepatutnya ditangkap dalam awal-awal ajarannya, mungkin distorsi makna memang terkadang tidak terhindarkan. Ini mungkin jalan menuju kematian Tuhan. Justru ketika kita dengan mudah mengambil Tuhan sebagai alat kita mencapai kebenaran subyektif dan asosiatif. Tentu mengandung benih caufinisme. Terkadang cara pandang ini lebih memberikan kebutaan ketimbang pencerahan. Menjadi fundamentalis mungkin menjadi orang yang tenang dan damai, meski dibalik itu, sosok kebenaran akan sangat punitif dan orthodoks. Jika kita jujur tentu saja akan sangat banyak contoh aktual mengenai konlik yang dilandasi atas perbedaan keyakinan, agama, sekte, aliran dan sejenisnya. Perang misalnya. Mungkin menjadi situs paling aktual bagi penjelasan mengapa sosok kebenaran menjadi demikian rawan. Bahwa Perang sadar-ataupun tidak sadar. Disengaja maupun tidak. Jelas masih memiliki kaitannya dengan agama. Karena jika kita bicara jujur. Mungkin jangan-jangan kita memang masih mempersoalkan kebenaran atas kesadaran subyektif. Persis seperti gambaran Crusoe bahwa yang bukan gambaran Tuhan seperti dirinya adalah Gambaran kontra tehadap Tuhan. Mungkin Setan. Irlandia dan Inggris misalnya, sebagai pertarungan Katolik dan Protestan, atau Israel dan Palestina, sebagai wujud Jihad kaum muslim dan semangat zionisme Israel. Sebagai sebuah gagasan yang berakar pada keyakinan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang terpilih oleh Tuhan. (lihat bible). Dan inilah kematian Tuhan itu. Agama sebagai sumber keselamatan dan pengemban arah kedamaian justru menjadi alas konflik yang justru jauh lebih berakibat menyengsarakan. Yang pada gilirannya tentu menyengsarakan citra tentang Tuhan. Sehingga orang justru menjadi sangat tidak ber Tuhan untuk sekedar menghilangkan kegelisahan akan kesengsaraan yang ditimbulkan manakala orang beragama justru mempercayai Tuhan.
Lelaki kecil dalam Kurun masa berlalu…………..
Dear Florine (surat 2)
Dear Florine
Semoga damai dan cinta yang meraja.
Mungkin perang adalah satu-satunya cara untuk menghentikan “kegilaan” kekuasan despotic Saddam Husein dan kroninya. Mungkin Amerika memang tepat. Mungkin Bush memang patut diacungi Jempol. Mungkin memang ini “caranya”.
Tapi. Mungkin itu semua. Juga sebuah rekayasa besar.
Banyak hal didunia ini sangat tidak adil. Sangat-sangat tidak adil.
Kita mungkin mengerti banyak teori tentang resistensi imperialisme. Tapi apakah itu berarti dunia ini berhenti dari imperialisme. Dan apakah juga berarti imperialisme sekarang ini memang sebuah imperialisme melawan terorisme.—paling tidak mungkin mata manusia sedunia ini jadi berlaga naïf. Dan tutup telinga.
Bagaimana mungkin menjelaskan terorisme bisa ada dengan penjelasan variable yang tunggal. Bahwa manusia didunia ini terbagi dengan dua ciri penting satu orang baik dan satunya teroris ?. bahkan Lomroso pun mungkin tidak berpandangan sedemikian picik (Mahzab klasik Kriminologi—seorang penjahat memiliki ciri khusus) adakah terbersit bahwa orang menjadi teroris karena ; ayahnya, ibunya, mati di Bom, sehingga wajah dan bentuk tulangnya tak lagi ditemukan. Ataupun istri dan anak-anaknya terpanggang hidup-hidup dalam sebuah mobil yang ditumpangi. Ketika sebuah pesawat jet. Melintas melepaskankan rudal. Suatu hari mungkin kitapun akan jadi orang tua. Coba bayangin anak anda berlari bermain ditaman. Dan sebuah mobil tiba-tiba melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara pengemudinya mabuk. Tepat saat itu bolanya terlepar ke jalan. Detik berikutnya anak anda mungkin telah terpental jauh dengan tubuh yang tak lagi berbentuk. Karena remuk.
Pernahkan kita terpikir orang menjadi penggangu, karena hidup dan kehidupannya telah digerus. Mungkin oleh mesin-mesin penggerus yang tidak tertandingi. Mesin hegemoni yang tidak bisa terlawan.
Ali. (dicuplik dari TV al-jazeera). Seorang anak bocah 9 tahun. Di Irak
sana mungkin tidak mengerti untuk apa dia menangis. Mungkin ia hanya menangis akan kesakitan ditubuhnya, yang sementara ini dia tahu bahwa, kedua tangan dan kakinya telah diamputasi dokter. Dia mungkin tidak menyadari kepedihan yang sebentar lagi di ketahuinya. Bahwa hanya dia satu-satunya yang selamat. Karena mobil mereka sekeluarga hangus terkena Bom, ketika
kota Basra di gempur habis-habisan.
Bayangkan hidup tanpa ada lagi instrumen dirinya. Ditambah lagi orang-orang yang dikasihinya telah pergi. Ali mungkin hanya menangis karena dia tahu bahwa dia tidak lagi bisa bermain bola dengan kawan-kawannya. Tapi jelas dia tidak menyadari. Ketika dia akan hidup lepas dari perawatan siapa yang akan menyuapinya makanan ? siapa yang akan mengajarkannya ? dan dan siapa yang akan menuntunnya untuk buang air dan mandi ? Kualitas hidupnya akan turun. Mungkin paling lama hanya bertahan setahun, setelah itu dia sakit-sakitan dan mungkin tidak lama lagi dia akan menyusul orang-orang yang telah mendahuluinya. Dan berkumpul dialam
sana . Tempat semua makhluk kembali. Tuhan yang maha Adil dan maha Tahu.
Flo.
Tentu setiap pertikaian juga, tidak mungkin lepas dari berbagai hal dari perbedaan, perbedaan ras, perbedaan keyakinan, perbedaan agama. Perbedaan perdapat bahkan perbedaan pendapatan. Ia terbentang dari hal-hal yang esensial dan ideologis hingga pada hal yang sangat remeh dan temeh.
Flo.
Saya seorang muslim. Dan apa yang saya yakini, ketika Tuhan berkehendak menciptakan dunia. Dengan kerentanan perbedaan. Memang disatu sisi akan menimbulkan konflik. Tapi, Tuhan sendiri yang menjelaskan bahwa. Kita diciptakan berbeda-beda, suku, kelompok, ras, budaya. Dsb adalah untuk saling mengenal dan memperkaya. Karenanya harus berbeda. Harus berbeda. Justru untuk memanifestasikan nama Tuhan itu sendiri. MAHA BESAR.MAHA
ADA . MAHA EKSIST. Omni Present.
Adalah Tuhan yang sama yang menciptakan Alam semesta. Tuhan yang sama yang menciptakan bangsa Tionghoa, Melayu, Aria, Yahudi, Mongol, Negro, Arab,
Hindustan , Afronesia. Jelas Tuhan yang sama yang menciptakan, orang Sunda, Maluku,
Moro ,
Ethiopia ,
Bosnia . Lagi-lagi itu semua untuk memanifestasikan nama Tuhan. MAHA PENCIPTA.
Dan jelas Tuhan yang sama yang menciptakan segala zat, baik yang berguna bagi kehidupan maupun zat yang merusak kehidupan. Tuhan yang sama yang menciptakan orang Yahudi, Kristen, Katolik, Islam, Shinto, Budha, Hindu, dan beragam keyakinan lainnya. Sebab kita masih ada disini. Dialam semesta yang sama. Yang diciptakan oleh “Sesuatu” yang Maha Kekal. Adalah Tuhan yang sama.
Mana mungkin Tuhan, memihak pada satu kelompok, satu warna kulit, satu keyakinan. Satu gender, satu tempat, satu agama,. Yang paling mungkin adalah klaim kebenaran, propaganda subyektif, dan klaim pembenaran sehingga kebenaran bisa didekonstruksi. Sebab, mana mungkin itu bisa tidak terjadi jika kita lihat, satu ras lebih merasa besar atas ras lain. Bahwa perbudakkan kulit hitam bisa terjadi, mungkin karena orang kulit putih mengangap Tuhan adalah “sewarna” dengan mereka sehingga yang tidak sewarna, jelas bukan bagain dari Tuhan. Entah bagian dari Setan atau apapun sejenisnya. Sehingga patut direndahkan.
Ini jelas tidak benar. Bukankah kita segera akan befikir bahwa Tuhan jelas Tidak Adil. Karena dia sudah memihak pada sesuatu. Dan apakah merasa lebih besar karena merasa bahwa Tuhan, mungkin memiliki kesamaan seks mereka. Apakah ini adil. Ataukah kita berpikir bahwa, ya inilah keadilan yang memang menjadi sifat dari zat Tuhan. Lalu kemanakah manifestasi nama Tuhan yang MAHA ADIL itu.
Apa yang saya yakini, jelas bertolak belakang. Karena Tuhan sedianya, dan esensinya adalah sesuatu yang tidak memiliki kecenderungan. Yang memiliki kecenderungan itu kita. Kita. Manusia. Makhluk. Ciptakan Tuhan. Itu yang memiliki kecenderungan. Karena manusia, memiliki kecondongan. Kita lebih condong pada suka pada sesuatu jenis, karena saya laki-laki normal, jelas saya condong pada wanita. Karenanya saya memiliki kecondongan lebih menyukai wanita. Mungkin jenis-jenis tertentu. Atau begitu juga sebaliknya.
Flo.
Jujur. Terkadang sebuah pertikaian juga terlacak dari alam pikiran bawah sadar kita. Bahwa kita memang memiliki kecondongan. Lebih spesifiknya mungkin alam bawah sadar kita memang cenderung untuk bersifat sangat subyektif.
Karen Amstrongs. Dalam sebuah bukunya “The Battle in The Name of God” (sory gue lupa—judul tepatnya.). konflik yang terjadi dalam konteks perang dengan dilandasi keyakinan memang bukan sesuatu yang baru, dan ini memang merupakan fenomena sejarah religiusitas. Agama yang menjadi inspirasi atas perdamaian dan berfungsi memberikan keselamatan dan kedamaian. Terkadang justru menjadi legitimasi atas konflik dan peperangan.
Sebelum menyerang Irak, Bush mensitir ayat dari bible, sedangkan Saddam pada saat yang sama, menyerukan jihad melawan orang kafir diseluruh negerinya. Klaim-klaim ini jelas merupakan pembenaran dan masih sangat debatable kebenarannya. Karena sebuah excused yang sangat instan yang dibutuhkan maka suatu sentimen yang bersifat ortodoks. Menjadi sesuatu yang mudah untuk membangkitkan perlawanan. Karena mudah dan murah untuk membangkitkan kebencian dengan alasan perbedaan2 yang memang sudah ada dan penuh trauma.
Meski demikian pernyataan Bush dan Saddam Jelas, sebuah pernyataan yang jujur, sekaligus memberikan gambaran bahwa memang ‘masih ada’. Memang masih ada “trauma” itu. Hingga Paus sendiri mengkhawatirkan dampak perang yang akan meluas. Sebab, memang masih terlalu dekat dengan “trauma” perang salib. Paus mungkin sangat mengerti mengenai, perasaan atas penderitaan dan sakitnya kehancuran yang dialami peradaban Islam, karena perang Salib.
Dan tepat di tempat yang sama.
Baghdad . Ketika kekhalifahan ummayah. Di rampok habis-habisan. Ilmu pengetahuan, harta, dan harga diri, dipermalukan secara tidak manusiawi. Perang didengungkan oleh Paus yang pada saat itu, untuk membela nama Tuhan.(Gospel) Meski pada kenyataannya, tidak jauh dari Gold dan Glory. Dan sejarah sendiri yang membuktikannya.
Dan tepat ditempat yang sama,
Baghdad . Dan sejarah (mungkin) sepertinya akan berulang.
Tidak jauh dari Irak. Di Qatar. Pada saat masih berlangsungnya invasi Amerika ke Irak Raja
Qatar mengundang para ulama dan petinggi agama-agama di negeri itu. Dan mendiskusikan. Bahwa Perang ini sadar-ataupun tidak sadar. Disengaja maupun tidak. Jelas masih memiliki kaitannya dengan agama. Karena jika kita bicara jujur. Mungkin jangan-jangan kita memang masih menyimpan memori kolektif yang sama. Dengan motif yang sedikit berbeda.
Ketika Bush menyebut. Poros Setan. Mungkinkah kita akan menyebut
Pyongyang yang dimaksud, atau
Beijing . Jelas bukan, sebab. Lagi-lagi ini seperti mendefinisikan teologi yang sebanding ketika menyebut orang Negro sebagai “Setan”. Karenanya patut direndahkan dan diperbudak.
Robinson Crusoe, merupakan sebuah epic, yang secara tidak sadar mewarnai teologi saat abad 15-18. Cerita ketika dia terdampar di perairan
Polynesia . Dan mendapati teman seorang Negro. Tentu yang dia maksud “Setan” karena temannya berkulit hitam. Berwajah sangar. Dan bertuhan Buaya. Sedangkan Robinson Crusoe, menggambarkan Tuhannya persis seperti dirinya. Berkulit putih dan tentu saja rupawan.
Ketika Temannya mengatakan yang disembahnya adalah yang Maha Kuat, maha tidak tertandingi, maha ada, maha tersembunyi dan menunjuk simbolisasinya adalah Buaya. Maka praktis lengkap sudah gambaran Setan itu. Dan Setan pada masa kini. Mudah kita tebak. Teroris.
Teroris, lepas dari berbagai definisinya. Dengan berbagai mesin propaganda. Taliban, Al-Qa’eida, Mujahidin, Intifada dsb, sederet nama-nama perwakilan teroris. Tuduhan ini sangat tendensius pada orang yang berkeyakinan kaku. Dan tentu kata kuncinya adalah. Tidak tunduk pada hegemoni Amerika. Mungkin lebih bertendensi lagi lebih tepatnya peradaban Islam. Karena dalam setiap aksinya yang bisa anda lihat dalam film Amerika selalu memakai idiom Allahu Akbar. (Tuhan Maha Besar)
Kekalahan Amerika di tanah
Iran dengan tergulingnya Syah Reza Pahlevi. Dan kemudian
Iran di pegang oleh Ayatullah Khomaini. Sang pemimpin Syiah. Tentu menjadi trauma besar Amerika. Karena kurang apa sang Syah yang tatkala itu mendapat dukungan habis Amerika. Karena kepentingan minyak Amerika sangat bergantung dari siapa yang memimpin negara-negara Timur Tengah. Saddam, tentu kita tidak perlu perdebatkan lagi.
Ini jelas tidak adil. Kita mungkin lupa dengan
Bosnia . Yang di bunuh adalah anak-anak, wanita dan mereka yang jauh dari warna militer. (Seandainya anda pernah menonton film dokumenter
Bosnia . Anda bukan sedang melihat pembantaian manusia, melainkan pembantaian binatang—karena murahnya harga kepala manusia) Lalu apa sebutan untuk orang yang melakukan pembantaian ratusan, bahkan jutaan orang ini. Tidak ada.
Osama Bin ladin tiba-tiba menjadi pahlawan Islam dan perwakilan perjuangan Islam karena telah menghancurkan WTC. Dan yang melakukan ini adalah Teroris. Dan teroris adalah Setan. Bayangkan pada hari yang sama, CNN menayangkan. Ribuan orang di Palestina bersorak riang. Karena peristiwa ini sepertinya peristiwa yang telah ditunggu-tunggu seluruh Muslim diseluruh dunia. Karena yang berteriak riang berciri arab, jilbab, dan tentu maksudnya Islam. Meski berita tersebut ternyata dikoreksi oleh sesama pers Amerika sendiri dengan menyampaikan ralat. Dan dijelaskan bahwa hal tersebut berita sekian tahun silam. Apa yang ada di benak anda jika anda adalah orang Amerika, dan sedang melihat ribuan orang mati. Dan sebuah gedung jatuh. Dan pada saat bersamaan orang lain berteriak kegirangan. ? Sudah tentu anda marah. Dan sudah tentu anda dendam. Dan sudah tentu anda setuju pihak tersebut harus di hancurkan.
Flo. Buat kami seorang muslim, peristiwa kematian merupakan sesuatu yang sangat sacral dan sakit sangat sakit. Nabi kita menggambarkan bahwa kematian seorang manusia. Serasa di cincang 300 kali. Karena ini adalah peristiwa. Say good bye antara ruh dengan jasad. Dan ketika nabi Muhammad sendiri mati. Dia berdoa, dia meminta semoga kepedihan sakratul maut umatnya di timpakan kepada dirinya, sehingga seorang muslim bisa sekarat dengan tidak merasakan kepedihan. Bayangkan. Sangat jauh dari senyum dan bayangan sumpah serapah.
Peristiwa penayangan ini justru lagi-lagi menyibakkan suatu teologi yang sangat aneh bahwa, orang yang menayangkannya dan orang yang percaya akan penayangannya jelas memiliki sumpah serapah ketika seorang muslim mati karena di cincang, dibakar, di sembelih, dibom, ditembak. Patut untuk disumpah serapahi. Sehingga
Bosnia ,
Iran ,
Irak , Afghanistan . Mungkin juga perang salib. Dsb.
Flo, Tulisan ini, merefleksikan sebuah tangisan dari kebengisan. Kepedihan dan kesedihan yang dialami orang-orang yang tertindas dan dilindas. Saya mungkin memang bukan seorang muslim yang fanatik. Karena setiap kali ditanya seorang teman pasti saya jawab. Saya seorang Ateis.
Hanya ketika saya ketakutan, sendirian dan takut mati saya melenguh sebuah nama. Allah. Selain membaca Qur’an saya juga membaca Bible. Yang juga sebagian saya imani. Karena perjanjian lama tentu berisi kitab Taurat dan Enuma Elis.(pesan-pesan kitab kuno–Zabur) serta Injil sendiri.
Seperti kata Karen Amstrong dalam History of God. 4000 tahun lalu ketika itu agama memang tidak ada. (karena agama yang ada sekarang pun hanyalah sebuah identitas) Yang ada hanyalah keyakinan tentang Tuhan dan persepsi manusia tentang Tuhan. “……Pada mulanya, manusia hanya menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa Langit dan Bumi.dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadaNya. Dia terlalu luhur bagi ibadah manusia yang tidak memadai. Perlahan ia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh. Sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang…”
Dan terus terang saat ini, adalah saat ketakutan itu. Perang mungkin telah didekler telah usai. Tapi masalahnya memang bukan terletak pada perang. Peristiwa-peristiwa yang menyudutkan kelompok dan keyakinan tertentu tentu tidak akan selesai diberantas dengan Perang. Karena ia tersimpan di kepala. Dan menunggu suatu saat peluang-peluang tersebut meledak. Dan setiap ledakannya tentu menimbulkan trauma-trauma baru.
Flo. Maaf sekiranya
surat ini terkesan protes. Tapi memang sebuah protes dari sebuah konstatasi dunia yang semakin condong. Mungkin memang karena kita manusia. Dan karena keterbatasan wawasan kita mungkin hanya mengenal dunia sekeliling kita, beruntung orang kayak kamu yang bisa melancong dan melihat banyak hal di negeri orang.
Seperti juga orang tua saya yang baru pulang beribadah Haji mereka melihat banyak manusia yang berbeda jenis dan ragamnya dan mereka mendapatkan oleh-oleh atas visi dan wawasan baru. Dan terutama haji juga adalah tradisi Ibrahimi. (nabi Abraham) bapak bangsa agama Yahudi, Kristen dan Islam. Hanya lebih condong kepada anaknya Ismail. Mungkin versi lain seperti halnya juga Yahudi dan Kristen adalah versi anaknya Ibrahim Ishak. Toh karenanya keyakinan Kristen dan Islam memang masih bersaudara.
Semoga kamu Tetap Sehat Walafiat. Amin
Kalau kamu yang bertanya saya agamanya apa. Pasti saya akan jawab Ateis. Juga. Karena saya memang juga jarang melakukan ritual agama saya. Saya hanya percaya bahwa Tuhan itu memang ada.
Wassalam.(Shalom).
Om
Swasiastu__
Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine
Kekuasaan bukan segala-galanya sebagai jalan untuk mengubah sesuatu, kekuasan mungkin mengambil sebagian kecil dari sepenggalah “episode” dalam perubahan itu sendiri. Jadi jelas persoalan merubah sesuatu bukan semata-mata kekuasaan. Jadi jelas bahwa apa yang seharusnya digarap bukan sekedar menggarap kekuasaan semata-mata. Kekuasaan mungkin mengambil peran struktural dalam perubahan, membuat sebuah perubahan tanpa memperhitungkan peran struktural, jelas sebuah perubahan yang mengada-ada. Pada saat lengsernya Soeharto, mungkinkah, hanya demo mahasiswa sebagai sebuah tekanan semata. Mungkin kita luput dari ingatan bahwa ada sebagai dari menteri di kabinetnya Soeharto yang mengundurkan diri. Maksudnya sangat mungkin bahwa pembangkangan secara struktural anggota kabinet tersebut, bisa sangat jadi adalah faktor yang tentu saja menjadi perhitungan dari analisa kita tentang perubahan.
Seperti kita ini misalnya. Berapa tahun sebenarnya kita fasih setiap harinya bicara tentang reformasi, tapi, apa mungkin kita memang sampai pada sebuah jalur yang benar. Sehingga tentu saja mempengaruhi tujuan kita pula untuk memperbaiki. Tentu ini bukan satu pertanyaan individual, melainkan sebuah keluahan komunal dari bangsa yang tengah mengalami sebuah stagnasi akutnya yang luar biasa. Dan istirahat ditempat pada bukan tempatnya. Jadilah bangsa ini bangsa yang “begini”.
Apa lengsernya Soeharto lantas akan memperbaiki keadaan. Suatu perubahan telah terjadi. Entah apa namanya yang pasti mungkin sedikit banyak dalam pandangan awam, kira-kira begini : harga-harga melonjak sekian kali lipat, kitapun pernah mengalami masa “ngantri” beras beberapa tahun yang lalu, kondisi keamanan yang semakin meningkat tidak aman, masalah kenakalan pelajar yang semakin hari bertambah makin “ganas” dan “beringas”. Belum lagi masalah obat-obatan terlarang.
Apasih yang kita mengerti tentang kapitalisme ?
Apakah kapitalis sekedar Amerika, sekedar modal, sekedar penghisapan, sekedar perusahaan multinasional yang memiliki kantornya dimana-mana dipelosok dunia ini.Terus terang pertama kali anda bilang, anda “benci kapitalis” jelas ada semacam kebanggan didiri saya pribadi mengenai sosok anda. Namun itu juga menimbulkan pertanyaan baru, bahwa kapitalisme yang anda maksud itu yang mana?
Pandangan terhadap, Pandangan Anda Tentang Kapitalisme
Mungkin, bisa jadi siapapun bisa teriak anti kapitalis. Permasalahannya sekarang atas dasar apa sebuah kapitalis memang harus kita hujam. Sedangkan jangan-jangan, padangan kita tentang kapitalis itu sendiri terlampau cetek dan tidak berdasar sama sekali dan jauh dari argumentasi yang memadai. Hal ini jelas untuk membedakan, suatu pandangan yang teramat simplistis, terhadap kebencian pada suatu negara atau kelompok.
Belum lagi pertemuan anda dengan ruang “kapitalis” tadi merupakan oleh-oleh ruang menara gading yang jauh dari sisi realisme, romantisme, dan pengalaman yang justru sangat penting untuk memahami realitas sesungguhnya tentang binatang bernama “kapitalis” tadi. Atau jangan-jangan seperti yang dikatai oleh Yudi Latif. “disonansi intelektual”—anda sedang teriak anti rokok, sementara mulut anda menghisap sebatang daripadanya. Ini jelas bukan sekedar ungkapan untuk sekedar meledek, secara satir. Bukan itu maksudnya. Tapi memahami noumena mungkin jauh lebih penting dan utuh daripada sekedar memahami fenomena secara sepotong-sepotong. Jelas kebencian kita terhadap sesuatu adalah bukan kebencian mitos. Dan sementara kesadaran anda sepenuhnya belum final dan matang.
Mitoslah yang akhirnya membuat polusi dalam lingkungan mental kita karena perbahasaan yang kita gunakan. Maka dalam kaitan ini tentu anda perlu menyimak apa yang diperingatkan oleh Roose
Poole dalam Morality and Modernity (1991) ketika ia membahas rasio komunikasi dari Habermas : “ Pemakaian bahasa hanya akan memiliki otoritas moral untuk membendung perluasan lebih lanjut dari rasio instrumental, kalau bahasa itu sendiri tercakup dalam sebuah teori yang lebih komprehensif mengenai kebaikan manusia”.
Jadi ada dimana kesadaran anda akan kata-kata anda?
Betapa Hipokritnya kita. Kita bicara tentang perbaikan moral sementara kita sendiri mungkin alpa bahwa ada sesungguhnya yang menjadi landasan krisis moral itu, sementara kita membiarkan polusi “ruang batin” kita. Bayangkan bagaimana hipokritnya kita.
Mungkin benar, bahwa kita membenci kapitalis, tapi juga kita boleh memnyimak apa yang diungkapkan opleh Teman saya Jumhur Hidayat. dari sebuah tulisan yang ditujukan kepada kawannya saat ia tengah di Penjara Suka Miskin,
Bandung , tahun 1991 : “pengeksploitasian hubungan cinta muda-mudi yang diwujudkan dalam bentuk film, perhiasan, hura-hura dan sebagainya, pada intinya tidak lain adalah pemenuhan kepuasan murahan. Begitu juga halnya dengan hari-hari yang sebelumnya tidak bernilai profit, setelah disentuh dengan tangan kapitalis berubah menjadi bernilai profit seperti hari kasih sayang (Valentine, 14 Pebruari)
Dalam sebuah tayangan televisi yang mengulas acara otomotif. Dalam salah satunya menampilkan sekual mengenai klub otomotif anak muda. Berderet mobil-mobil mewah lengkap dengan ulasan variasinya yang jelasnya tentu juga menguras decak kagum. Berapa banyak uang yang harus keluar, jangan dulu bicara harga mobilnya, tapi “dandanan” mobilnya saja sudah bikin sebagian manusia kita mungkin tertawa nyinyir (tertawa sambil menangis). Kok bisa ya?… Lantas seorang kawan nyeletuk ; “gimana kalo yang kayak gini nih BPK langsung “bergerak”—anak-anak siapa tuh?, kalau ternyata anak pejabat publik dari mana uangnya?
Kan bisa langsung diperiksa, nah kalo kayak gitu ceritanya,
Indonesia bisa cepet keluar dari krisis”.
Tugas para intelektual adalah menarik gerbong “ Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). M. Dawam Rahardjo.
Tesis Paulo Freire ; dalam Fear of Freedom: Authoritarian can be so tempting, freedom can be so fear: bahwa manusia akan takut kepada kebebasan jika sudah terlalu lama ditindas atau ditekan.
Teori adalah jaring untuk menangkap realitas sosial, demikian kata Ralf Dahrendorf.
Annyong-hi gyeseyo SBY
Annyong-hi gyeseyo SBY
MOHAMMAD HAMDAN
Annyong-hi gyeseyo dalam bahasaKorea
berarti selamat tinggal. Sedangkan SBY sama-sama kita tahu bahwa saat ini ialah presiden RI saat ini. Presiden pertama dalam sejarah demokrasi kita yang dipilih secara langsung. Dan ini tentu sebuah buah dari perjalanan demokrasi yang “lumayan” cepat dan berhasil.
Dari tahun pertama menjabat sebagai presiden hingga hari ini kita sangat-sangat prihatin, dan terus menerus mengurut dada. betapa tidak. karena dialah Presiden yang setiap harinya “mengurus” bencana. mulai dari gempa di merauke, tidak lama Tsunami, dan tidak lama wabah Flu burung, tidak lama kemudian disusul kecelakaan kereta, tiba-tiba meledaklah Lumpur lapindo, milik seorang anggota cabinet. Disusul pula kecelakaan kapal laut. dan ironis 2007 ini diawali sebagai tahun bencana dengan “raibnya” Adam Air. yang konon katanya juga dimiliki petinggi negeri ini. dan disusul pula bencana gempa disepanjang nusantara. dan tidak kalah melelahkanya. Banjir.
Presiden Bencana
Saya kira tidak ada yang lebih melelahkan dari kerja pemimpin-pemimpin kita sebelumnya dibanding kerja SBY saat ini terutama sekali dalam hal mengurus bencana. dan meski sangat ingin menghindari, namun tidak juga bisa ditampik bahwa SBY adalah presiden bencana.
kerja yang begitu melelahkan tentulah sebuah “takdir” sebagai presiden. namun ditambah dengan serangkaian bencana tidak bisa di hindari bahwa hal tersebut tentu kian menambah bobot turunnya akselerasi kinerja pembangunan.
alih-alih bisa kerja untuk fokus pada masalah penganguran, bila saat bersamaan harus mengurus Adam Air, alih-alih bisa memulai dan menebar kinerja disaat bersamaan Tsunami datang. dan seterusnya-dan seterusnya.
Skeptisisme
George Santayana dalam “Skepticism and Animal Faith” menuliskan ; “Sikap skeptis , dalam mempertanyakan segala sesuatu, merupakan benteng kemurnian cendekiawan, dan sangat memalukan jika benteng itu diserahkan terlalu cepat atau pada siapapun yang datang lebih dahulu—ada kemulian dalam menjaga benteng itu dengan sikap tenang dan rasa bangga melewati masa muda yang panjang, sampai akhirnya, benteng itu bisa dengan aman dipertukarkan dengan kebenaran”.
Pendapat George Santayana ini, buat saya memberikan dua ruang berpikir. apakah terlalu cepat kita memberikan cap SBY sebagai Presiden bencana. atau jangan-jangan pada awalnya rakyatlah yang harus di salahkan karena terlalu menggantungkan harapan-harapan besar pada SBY.
Dan kira saya piker harus melumatkan cara berpikir yangpertama karena proses berpikir ini mungkin saja bisa tidak relevan. Dan tidak fungsional untuk menyelesaikan persoalan, tapi setidaknya skeptisisme memang diperlukan untuk tidak memperlakukan masa depan dengan gegabah. termasuk saya kira perjalanan bangsa ini yang terlampau rumit untuk bisa di urai dan diselesaikan satu demi satu.
Jenis “Masalah”
Disatu sisi memang ada persoalan yang datangnya dari “langit” namun disisi lain, ada banyak sekali kekeliruan yang memang secara mata telanjang dilakukan dengan kecermatan yang minimal dengan tingkat profesionalisme yang amburadul. jika Tsunami memang datang dari “langit”. Lalu bagaimana menjelaskan kasus Haji kelaparannya. jika Adam Air mungkin kecerobohan setengah manusia dan sisanya Takdir lalu bagimana dengan keluarnya dan ditarik kembalinya PP 37 tahun 2006. Khilaf?
Ini tentu dapat memberikan kejelasan, ada korelasi yang mulai terlihat sebagai kecompang campingannya pemerintahan ini dikelola. Sehingga bukan tidak mungkin banyak sekali keanehan yang akan muncul dan semakin terlihat kontradiktif satu sama lain. Disatu sisi berniat sungguh-sungguh melawan korupsi, namun disisi lain seorang Koruptor yang sangat kemaruk. bisa “lolos” kembali menjadi gubernur.
Jika kita mau jujur untuk mengevaluasi terhadap kinerja pemerintahan saat ini pantas memunculkan sebuah kesimpulan ; betapa tragisnya nasib bangsa bila kekuasaan yang ada saat ini di tangan SBY-JK tidak mampu memfokuskan dirinya untuk memberikan manifestasi dari janji-janji untuk memulihkan perekonomian nasional. Bagaimana kita bisa menyatakan ekonomi telah pulih, apabila inflasi berlangsung tinggi, pertumbuhan berlangsung rendah, Dan persentasi kemiskinan menanjak. Sector real tidak bergerak, pengangguran meluas, perbankan tidak berfungsi, otonomi daerah yang saat ini sekedar retorika belaka dan KKN yang justru makin dominan dalam kehidupan bernegara. Dengan modus yang semakin tidak pernah terbayangkan pada era sebelumnya.
Untuk itu sebagai rakyat biasa kita hanya dapat berharap, semoga tidak terjadi kutukan yang mengerikan terhadap bangsa dan negara ini. Meski demikian kita perlu teramat hati-hati dan tidak mudah memberikan cap terhadap pemerintahan saat ini seraya berpikir ulang untuk tidak cepat juga menggantungkan harapan-harapan yang muluk kepada pemimpin manapun.
Waspadalah sebagai warga Negara dalam menjatuhkan pilihan. Dan terlebih lagi Hati-hati agar bangsa ini tidak terpikir untuk mengucapkan “Selamat Tinggal SBY”. Dalam bahasa Koreanya. Annyong-hi gyeseyo SBY.